PENERAPAN MODEL EOQ (Economic Order Quantity) DALAM RANGKA MEMINIMUMKAN BIAYA PERSEDIAAN BAHAN BAKU (Studi Pada UD. Sumber Rejo Kandangan-Kediri)

Authors

  • Candra Yuliana
  • . Topowijono
  • Nengah Sudjana

Abstract

Raw materials inventory  is important production factors in production process. Procurement of raw materials supplies will give rise to cost. Companies need to determine amount of the purchase of raw material supplies optimal/EOQ, determine safety stock, reorder point, and maximum inventory for a smooth production process. This research located at UD. Sumber Rejo Kandangan Kediri because company did not specify the maximum amount of purchases of raw materials and raw materials delivery times are uncertain so the amount of supply of raw materials exceeding the needs of raw materials used for the production process, resulting in raw material inventory costs are high. Calculation results obtained indicates if companies continue to use the existing policy, then total cost of inventory in 2015 is Rp 46.538.827,00 with 48 times frequency of purchase of raw materials, while total cost of inventory by EOQ method is Rp 32.687.501,00 with 20 times frequency of purchase of raw materials. There is a difference between two calculations is Rp 13.851.326,00 which indicates if company implemented EOQ method, then by 2015 company will save the cost of raw material inventory. Safety stock in 2015 amounted to 92.249,487 kg, ROP of 184.858,974 kg, and maximum inventories at 825.008,016 kg. Key word : Company, inventory, raw of materials, purchase, cost, EOQ ABSTRAK Persediaan bahan baku adalah faktor produksi yang penting dalam proses produksi. Kesalahan penetapan startegi dalam persediaan bahan baku akan mempengaruhi keuntungan. Perusahaan perlu menentukan jumlah pembelian persediaan bahan baku optimal/EOQ, menentukan persediaan pengaman (safety stock), titik pemesanan kembali (reorder point), dan jumlah optimal inventory untuk kelancaran proses produksi. Penelitian berlokasi pada UD. Sumber Rejo Kandangan Kediri sebab perusahaan belum menentukan jumlah optimal pembelian bahan baku dan waktu pengiriman bahan baku yang tidak menentu sehingga jumlah persediaan bahan baku melebihi kebutuhan bahan baku yang digunakan untuk proses produksi dan mengakibatkan biaya persediaan bahan baku yang tinggi. Hasil perhitungan yang didapat menunjukkan jika perusahaan tetap menggunakan kebijakan yang ada, maka total biaya persediaan pada tahun 2015 adalah Rp. 46.538.827,00 dengan 48 kali frekuensi pembelian bahan baku, sedangkan total biaya persediaan pada tahun 2015 dengan metode EOQ adalah Rp. 32.687.501,00 dengan 20 kali frekuensi pembelian bahan baku. Terdapat selisih antara kedua perhitungan yaitu sebesar Rp. 13.851.326,00 yang menunjukkan bahwa jika perusahaan menerapkan metode EOQ, maka pada tahun 2015 perusahaan akan menghemat pengeluaran biaya persediaan bahan baku. Safety stock pada tahun 2015 sebesar 92.249,487 kg dengan titik pemesanan kembali/reorder point (ROP) sebesar 184.858,974 kg, dan jumlah maximum invetory sebesar 825.008,016 Kg. Kata Kunci : Perusahaan, persediaan, bahan baku, pembelian, biaya, EOQ

Downloads

Published

2016-07-18

Issue

Section

Articles